![]() |
| Mahsan sang insfirator |
Pagi hari dengan sinar matahari yang cukup menyengat lantas tidak menghalangi antusias peserta mengikuti kegiatan pelatihan pengembangan bisnis untuk warga pinggir kawasan hutan tersebut. Buku pelajaran dipegang erat di tangan masing-masing peserta hari ini. Salah seorang peserta dengan tubuh yang lumayan tinggi dan kurus, rambut ikal serta kulit sawo matang ciri khas pribumi mencerminkan seseorang yang hidupnya tidak mudah dan penuh tantangan.
Nama aslinya Mahsan (32), entah dengan sebab apa tetapi di Dusunnya ia biasa dipanggil Pak Nyong. Laki-laki kelahiran Lendang Penyonggok, 1 juli 1985 ini hidup dengan seorang istri dan dua orang anaknya. Ia tinggal di sebuah dusun yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), tepatnya di Dusun Lendang Penyonggo Desa Tetebatu Selatan Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur.
Berita terkait :
Pekerjaannya sehari-hari ialah mencari rumput untuk pakan ternaknya. Hidup di pedesaan dengan pekerjaan sebagai peternak tidaklah cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Hasil dari beternak sapi hanya bisa ia dapatkan saat penjualan saja dan itu seringkali hanya digunakan untuk membayar hutang yang menumpuk untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.
Di desa tempat tinggal pak Mahsan, jika seseorang yang sudah berkeluarga, tanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarga adalah tanggung jawab penuh seorang kepala keluarga. Akan tetapi tidak jarang sang istri tidak hanya mengurusi rumah tangganya saja, sebab biaya hidup yang tinggi membuat seorang istri juga ikut bekerja membantu sang suami bahkan menjadi buruh harian lepas di dekat rumahnya.
![]() |
| Bambu siap kirim milik Pak Mahsan |
Faktor lapangan pekerjaan yang tidak tetap membuat masyarakat harus merantau keluar daerah bahkan keluar negeri. Di tempat tinggal pak mahsan menjadi TKI sudah menjadi tradisi jika seseorang yang tidak memiliki pekerjaan tetap salah satu solusi yang di ambil adalah merantau.
Melalui sebuah agen, berangkatlah Pak Mahsan ke Malaysia untuk menjadi TKI pada tahun 2002 sampai tahun 2006. Ia pergi menjadi TKI ke Malaysia secara resmi namun ia memilih pulang dengan cara ilegal. Kemudian pada tahun 2007 ia kembali pergi ke Malaysia secara resmi dan hanya bertahan selama 14 bulan di sana sayangnya ia kembali pulang dengan cara ilegal pada tahun 2008 .
Impiannya sebelum pergi menjadi TKI untuk merubah nasib dan meningkatkan ekonomi keluarganya kandas. Harapannya merubah nasib dan sukses seperti tetangganya membuat Pak Mahsan memilih mengau nasibnya ke Jambi pada tahun 2013, alih-alih merubah nasib justru sebaliknya yang terjadi. Biaya ongkos yang tidak bisa terlunasi menjadi tumpukan hutang yang justru menambah beban keluarga.
Melalui sebuah agen, berangkatlah Pak Mahsan ke Malaysia untuk menjadi TKI pada tahun 2002 sampai tahun 2006. Ia pergi menjadi TKI ke Malaysia secara resmi namun ia memilih pulang dengan cara ilegal. Kemudian pada tahun 2007 ia kembali pergi ke Malaysia secara resmi dan hanya bertahan selama 14 bulan di sana sayangnya ia kembali pulang dengan cara ilegal pada tahun 2008 .
Impiannya sebelum pergi menjadi TKI untuk merubah nasib dan meningkatkan ekonomi keluarganya kandas. Harapannya merubah nasib dan sukses seperti tetangganya membuat Pak Mahsan memilih mengau nasibnya ke Jambi pada tahun 2013, alih-alih merubah nasib justru sebaliknya yang terjadi. Biaya ongkos yang tidak bisa terlunasi menjadi tumpukan hutang yang justru menambah beban keluarga.
Sepulangnya dari rantauan Pak Mahsan sehari-hari bekerja menjadi buruh penebang bambu dengan upah Rp. 1.000;- / potong dengan panjang yang beragam mulai dari 4 meter sampai 5 meter. Karena lama menjadi buruh ,tentu ia bisa mengetahui segala bentuk seluk-beluk dalam usaha menjadi pengepul bambu. Kemudian ia mencoba menjadi pengepul bambu, kebetulan sekali ia mendapat tawaran seseorang akan menjual bambu dalam sekala besar dengan harga yang sangat murah. Ia membelinya dengan harga Rp.400.000 dan ia mendapatkan 975 potong bambu yang dijual seharga Rp.2.925.000;-. "Setelah menggeluti usaha sebagai pengepul bambu ini, sekarang kebutuhan rumah tangga bisa tercukupi dan saya sudah tidak kebingungan lagi dengan masalah kebutuhan untuk biaya anak,". Ungkapnya.
Sekarang ia sedang mengikuti pelatihan tentang Pengembangan Bisnis yang dilaksanakan oleh Yayasan Advokasi Buruh Migran Indonesia (ADBMI), yang bekerjasama dengan Millennium Challenge Account – Indonesia (MCA-I) dalam program Kemakmuran Hijau ( Grennprosperity Project).
Harapan pak Mahsan kedepannya setelah mengikuti kegiatan ini usahanya bisa berkembang dengan menerapkan ilmu yang ia dapatkan di pelatihan tersebut. Ia juga berharap di desanya ada pengolahan kerajinan bambu karena sumber daya alam terutama bambu sangat melimpah. " Jika ada pengerajin bambu bisa langsung pesan sama saya, kan usaha saya juga semaki meningkat jadinya" . Pungkasnya sambil tertawa. (Cecep)


