![]() |
| Proses pembuatan tempe |
Desa Tetebatu Selatan, siapa yang tidak kenal dengan sebuah desa yang terletak dibawah kaki Gunung Rinjani ini. Mungkin kebanyakan orang sudah tidak asing lagi dengan desa yang merupakan salah satu tujuan wisata di Pulau Lombok. Desa yang terletak di Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur ini memiliki udara yang sangat sejuk, berada diketinggian ±700 meter (m) dari permukaan laut membuat desa ini menjadi salah satu tujuan wisata yang banyak di kunjungi wisatawan asing dari berbagai negara karena keindahan hamparan sawah yang dipadukan dengan Gunung Rinjani yang menjulang tinggi.
Jika anda berkunjung ke Desa Tetebatu Selatan, jangan lupa mencoba membeli salah satu produk anak-anak muda yang tergabung dalam kelompok usaha Muda Mandiri yang terkenal dengan “Tempe Katbah”nya. Kelompok usaha yang terbentuk sekitar 2 bulan yang lalu tepatnya tanggal 27/04/2017, berproduksi di rumah ibu Zohrul Ain di Otak bangket Dusun Penyonggok Desa Tetebatu Selatan Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur. Mereka terdiri dari 17 anggota yang semuanya adalah pengurus Pusat Inkubasi Bisnis Desa (PINBID) yang di bentuk tanggal 09 maret 2017 oleh Yayasan Advokasi Buruh Migran Indonesia (ADBMI).
Sudarma hadi guna (26), adalah dalang dari pembuatan tempe ini. Laki-laki yang akrab dipanggil Darme ini memiliki pengalaman dalam proses pembuatan tempe kurang lebih selama 2 tahun saat menjadi karyawan di salah satu produsen tempe terbesar di Sumbawa. Hampir semua teknik-teknik pembuatan, tahap demi tahap sudah dia kuasai.
Menurutnya dalam proses pembuatan tempe, sangat dilarang menggunakan wangi-wangian seperti parfum, lotion, sampho, dan apapun yang baerbau harum. Bahkan pakaian yang digunakan saat produksipun ketika dicuci disarankan tidak menggunakan detergen, karena akan mengakibatkan tempe akan rusak dan tidak bisa berjamur.
Produksi tempe ini sudah berlangsung sekitar 2 bulan yang lalu dengan modal awal Rp.750.000;- yang dikumpulkan dari iuran anggota yang masing-masing mengeluarkan uang Rp.50.000;-/ orang. Mereka memiih usaha tersebut bukan tanpa pertimbangan terlebih dahulu, banyak factor yang menjadi alasan kenapa harus tempe yang menjadi pilihan produksi mereka. Selain melihat dari segi sumber daya manusia (SDM), tempe merupakan makanan yang hampir setiap hari dikonsumsi oleh kebanyakan masyarakat di desa, dan untuk mendapatkannya pedagang-pedagang kelontong harus membeli ke pasar umum Kotaraja yang jaraknya kurang lebih 2 kilometer (km) dari Desa Tetebatu Selatan. Hal inilah yang menjadi pandangan kelompok usaha tersebut untuk memilih tempe sebagai produk yang akan dikembangkan, berharap bisa memenuhi kebutuhan masyarakat di desa mereka.
Proses pembuatan tempe ini memerlukan waktu satu hari, karena harus melewati tahapan-tahapan yang cukup panjang. Tahapan pertama yakni merebus kedelai hingga matang dan kelancaran api didalam tungku harus benar-benar dijaga agar tidak memakan waktu yang lama.”Saat merebus kedelai kayu yang kita gunakan harus kayu yang bagus dan airnya harus dipastikan cukup karena tidak boleh ditambah, itu bisa menyebabkan kematangan tidak merata dan hasilnyapun tidak akan maksimal” ungkap laki-laki bertubuh kurus ini.
Pagi harinya kedelai yang sudah dipermentasi selama satu malam akan dipecahkan menggunakan alat pemecah yang dibuat langsung oleh Bapak Darme. Proses pemecahan ini dilakukan oleh 2-3 orang karena ada yang bertugas memasukkan kedelai ke dalam alat penggiling dan ada yang bertugas memutar alat tersebut sebab masih menggunakan tenaga manual. Saat digiling air harus tetap mengalir agar ampas dan kedelai bisa terpisah secara langsung.
Ketika kedelai sudah dipecahkan, selanjutnya pemisahan total kedelai dari ampas dilakukan langsung oleh Bapak Sudarma karena anggota yang lain belum mahir dalam hal ini.”Pemisahan kedelai dari ampas harus benar-benar bersih, jika ampas masih ada kualitas tempe belum bisa dianggap bagus dan jamurpun akan berkurang. Banyak juga orang membuat tempe dengan ampas untuk meningkatkan jumlah produksi, tapi kami tidak mau seperti itu kami lebih mengutamakan kesehatan dari pada untung”. Jelasnya.
Perebusan kedua dilanjutkan jika kedelai sudah benar-benar bersih, ini hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit hanya untuk sterilisasi agar kuman benar-benar hilang. Kemudian kedelai akan diangkat dan ditiriskan selanjutnya ditunggu hingga dingin. Setelah kedelai dingin baru diberikan ragi dan dibungkus, ternyata dalam proses inilah yang harus memerlukan banyak tenaga karena dalam proses pengemasan (packing) ini tidak boleh terlalu lama agar kualitas tempe yang dihasilkan bagus. Setelah itu tempe-tempe yang sudah selesai dibungkus langsung di semaikan didalam ruangan yang memiliki panas yang cukup dan tempe akan benar-banar jadi setelah satu malam disemaikan.
Kelompok usaha Muda Mandiri ini sudah berproduksi sebanyak 12 kali dan sudah menghabiskan 100 kg kedelai yang dibeli dengan harga Rp.405.000;-/50kg. Ternyata kedelai yang digunakan bukan sembarang kedelai, mereka membeli kedelai yang diimfor karena kedelai lokal tidak bisa dijadikan tempe.
Kelompok ini diketuai langsung oleh Bapak Herman Fauzi selaku ketua PINBID untuk Desa Tetebatu Seatan. Seperti yang diungkapkan beliau, dalam empat kali produksi mereka bisa mendapatkan untung sekitar Rp.450.000;- sampai Rp.500.000;-. Untuk penjualan pada awalnya mereka memberikan upah kepada seorang keluarga buruh migran akan tetapi sekarang masyarakat sudah tidak asing lagi jika mendengar tempe katbah, mereka lebih sering datang langsung ke tempat produksi untuk membeli langsung dan untuk pedagang-pedagang yang jauh dari tempat produksi biasanya mereka akan memesan sehari sebelumnya dan kemudian akan diantarkan langsung oleh anggota kelompok dibagian pemasaran.
Didaam berwirausaha pasti ada saja kendala yang dihadapi, biasanya tempe akan terjual habis dalam satu jam, dan kadang-kadang dalam satu hari hanya terjual setengahnya saja. Dari tempe yang tidak terjual tersebut mereka akan menyulapnya menjadi keripik tempe yang enak dan renyah.
Isteri dari Bapak Sudarma, Zohrul Ain (26) namanya. Ia sangat kreatif dalam hal ini, wanita lulusan Universitas STKIP Hamzanwadi Pancor Kabupaten Lombok Timur ini membuat keripik tempe yang akan dijual dikios-kios dekat rumahnya. Dalam satu bungkus keripik tempe ia hargai Rp.2000;- saja, selain rasanya yang enak keripik tempenya juga renyah dan tanpa bahan-bahan kimia.
Kelompok Muda Mandiri ini dikordinir oleh Pak Turmawazi selaku pendamping lapangan yang diutus oleh ADBMIFoundation, menurutnya kelompok usaha ini diluar kelompok usaha bentukan PINBID.” Kami sengaja membuat kelompok diruang lingkup pinbid sebagai salah satu contoh untuk kelompok-kelompok usaha yang ada dimasing-masing dusun”. Ujar laki-laki asli Suralaga ini. Pembina PINBID dari Pemdes yakni Pak Muzammil juga menambahka bahwa jika ada pelatihan-pelatihan untuk PINBID semua anggota diharuskan untuk share transport untuk menambah kas PINBID, dan setelah kas terkumpul cukup banyak mereka ingin membuat koperasi yang dimana koperasi ini akan dipergunakan sebagai tempat simpan pinjam untuk kelompok-kelompok usaha dimasing-masing dusun yang ada di Desa Tetebatu Selatan.
Tidak jauh dari tempat produksi tempe, kami juga berkunjung kesalah satu kelompok usaha bentukan PINBID yang ada di Dusun Lendang Penyonggok. Kelompok usaha ini diketuai oleh Ernawati (26) mereka mencoba berkreativitas dengan keripik pisang unggulannya. Kelompok usahanya diberi nama Kelompok Usaha Lereng Rinjani yang beranggotakan 8 orang anggota. Mereka sudah melakukan produksi kurang lebih sekitar sebulan yang lalu, yang bertempat dirumah ibu Ernawati yang juga langsung sebagai sekertariat kelompok Lembah Rinjani tersebut. Dalam sekali produksi kelompok usaha ini bisa menghasilkan 100 bungkus hingga 160 bungkus yang dibandrol dengan harga yang cukup murah yakni Rp.1000;- / bungkusnya.
![]() |
| Ibu erna saat menggoreng keripik pisang hasil produksi kelompoknya |
| Hasil produksi keripik pisang |
Wanita yang hanya lulusan MA di Madrasah aliyah Raodatuttolibin NW (setara SMA) Paok motong ini memilih keripik pisang karena bahan yang tersedia sangat banyak ditempat dia tinggal, karena banyak perkebunan warga yang didominasi oleh tanaman pisang. Dalam satu tangkai pisang ia dapatkan dengan harga Rp.70.000;- sampi Rp.80.000;- tergantung jenis pisang yang digunakan, tetapi mereka lebih memilih pisang yang besar dan bagus demi menjaga kualitas produknya. Keuntungan yang didapatpun tidak seberapa dikarenakan banyak bahan yang harus dibeli. “ dalam satu tangkai pisang kami hanya bisa mendapat keuntungan Rp.20.000;- soalnya banyak minyak goreng yang dihabiskan. Yang penting bisa menambah uang kas kelompok untuk sementara ini". Ungkapnya.
Selain menekuni usaha kelompok ini, ia juga mengajar disalah satu sekolah swasta didekat rumahnya. Ia memiliki seorang anak perempuan yang masih duduk dibangku Taman Kanak-kanak (TK) dan suaminya pergi menjadi TKI ke Malaysia.
Peningkatan ekonomi masyarakat di Desa Tetebatu selatan sudah mulai meningkat dengan adanya program-program yang dibawa oleh Konsorsium ADBMI & Friends selama ini. Para kelarga buruh migran dibina dan dilatih berwirausaha agar uang hasil kiriman suaminya (remittance) tidak hanya digunakan untuk keperluan sehari-hari. Disamping itu masyarakat juga rutin diberikan pelatihan-pelatihan tentang kewirausahaan yang modern dan bagaimana cara menghasilkan uang sendiri dirumah mereka masing-masing agar hasil yang didapatkan selama menjadi buruh migran bisa dinikmati bersama keluarga dalam jangka panjang.(Cecep)


