![]() |
| Ernawati saat menjadi pasilitator di pelatihan MERT |
Di tengah-tengah gemericik hujan yang turun pagi itu, tampak seorang wanita tergesa-gesa turun dari sepeda motor seorang laki-laki yang ternyata adalah suaminya sendiri. Ia tampak kedinginan dengan sebuah tas melekat di punggungnya. "Hujan adalah rahmat, dan hujan bukan penghalang untuk menjalankan aktivitas apalagi untuk kepentingan orang banyak" begitulah kata-kata yang terlontar dari bibir ibu satu anak ini. Dengan tubuh gemetar ia tak bisa menyembunyikan rasa dingin yang dibawa hujan pagi itu.
Wanita kelahiran 26 tahun silam ini bernama Ernawati ia berdomisili di Dusun Lendang Penyonggok Desa Tetebatu Selatan Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur. Pekerjaan sehari-harinya adalah sebagai ibu rumah tangga. Selain menjadi ibu rumah tangga ia juga menjadi tenaga pengajar di salah satu tempat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) setara dengan Taman Kanak-kanak (TK) yang ada di dusun tersebut. Ibu Erna begitu panggilan akrabnya adalah lulusan Madrasah Aliyah Raudatuttolibin Paok Motong.
Jiwa sosial yang tinggi membuat hatinya tergerak untuk menjadi salah satu anggota di Pusat Incubasi Bisnis Desa(PINBID), sebuah organisasi yang bergerak di bidang kesejahteraan masyarakat desa. Berangkat dari sinilah ibu Erna dipercaya menjadi salah satu utusan PINBID untuk mengikuti TOT (training of trainer) yang diadakan oleh Yayasan Advokasi Buruh Migran Indonesia (ADBMI) beberapa bulan yang lalu di Hotel Green Orry Inn, Desa Tetebatu Selatan.
Baca juga :
Dia dikaruniai seorang putri buah dari pernikahannya dengan Fathul Aziz(28), Aziz begitu dia dipanggilan masyarakat adalah mantan TKI yang tergolong berhasil, dia juga sangat mendukung apapun kegiatan istrinya.
Ibu Erna juga dipercaya sebagai ketua kelompok usaha ibu-ibu istri para TKI yang ada di Dusun Lendang Penyonggok, kelompok usahanya saat ini cukup aktif memproduksi keripik pisang yang menjadi produk pilihan kelompok usaha yang diberi nama "Lereng Rinjani" tersebut cukup.
Saat ini ia sangat-sangatlah sibuk dengan program yang ia ikuti, apalagi tugas yang dibebankan kepadanya sebagai pasilitator begitu berat. Mental dan tenaga serta kesabaran harus kuat karena menghadapi beragam karakter masyarakat yang berbeda-beda.
"Banyak pengalaman yang bisa saya dapatkan dan saya juga bisa mengetahui bagaimana ekonomi masyarakat di Desa Tetetebatu Selatan ini". Ungkapnya. Suka duka dan pengalaman menjadi ilmu yang tak bisa ia dapatkan dibangku sekolah menjadi penyemangat kedua selain dari keluarga kecilnya.
Jika ada suka pasti ada duka, dukanya adalah ketika harus meninggalkan sang putri yang baru berumur 4 tahun itu hampir satu hari penuh. Akan tetapi ia sangat beruntung memiliki seorang suami yang begitu pengertian dan bisa menjaga anak mereka dengan baik. Ahir-ahir ini ia sedang fokus mempelajari dan menyiapkan materi untuk menghadapi pelatihan selanjutnya tentang pengembangan bisnis setelah selesai mempasilitasi pelatihan Manajemen Ekonomi Rumah Tangga (MERT) untuk 100 orang penerima manfaat yang tersebar di 4 dusun yang ada di Desa Tetebatu Selatan.
Harapannya kedepan setelah program ini, penghasilan masyarakat hususnya para keluarga TKI serta mantan TKI yang terpilih menjadi penerima manfaat bisa lebih baik dengan cara membuat usaha yang nantinya bisa menambah pemasukan untuk keluarganya, sehingga secara tidak langsung keluarga atau suami mereka yang ada di rantauan terbantu untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, serta mereka terbiasa membuat anggaran untuk rumah tangga mereka masing-masing. (Cecep)
Ice breacking peserta pelatihan manajemen ekonomi rumah tangga
Ice breacking peserta pelatihan manajemen ekonomi rumah tangga
