![]() |
| proses produksi kerupuk |
Bak pemain di belakang layar ia mencoba merangkai cerita terindah. “Di balik kesuksesan seorang laki-laki ada wanita hebat di belakangnya” begitu pepatah bijak lamanya. Wanita itu adalah dalang kehidupan seperti seorang perempuan paruh baya dengan kulit sedikit keriput berusia sekitar empat puluhan, dengan jilbab Paris menutupi aurat dengan tidak sempurna tergesa-gesa turun dari sepeda motor seorang ojek yang ditumpanginya.
Tanpa binaan khusus dan dengan pengetahuan yang kosong dia mencoba membuat lapangan pekerjaan sendiri untuk meghasilkan uang sebagai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Usaha kerupuk di gelutinya dengan mencari informasi di misannya yang ada di Montong Betok yang sudah berpuluh-puluh tahun menekuni usaha tersebut. Dia sempat berbagi dengan salah seorang wartawan PIN BID, “Saya sempat kebingungan darimana saya akan mendapatkan modal usaha,tapi saya disarankan meminjam modal di Koperasi Bumi Raya” ungkapnya.
![]() |
| Proses pengemasan (Packing ) |
Selain membuat lapangan pekerjaan untuk dirinya sendiri dia juga mempekerjakan tiga orang karyawan yg membantu dalam produksinya dengan diberikan upah masing –masing Rp.10.000,- dalam sekali produksi. Harapan ibu Nurhasanah selain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga usahanya juga ditujukan agar suaminya di saat kembali dari rantauan nanti bisa membantu usahanya. “Saya membuat usaha ini selain untuk memenuhi kebutuha sehari-hari juga bertujuan agar suami saya berhenti menjadi TKI dan bisa membantu usaha saya ketika kembali nanti “ ujarnya. Dia menjual kerupuk hasil produksinya dengan harga Rp.5000,-/3 bungkus, yang menurut harga pasar itu harga paling murah yang ada di pasaran. Meskipun tanpa label kerupuk hasil produksi ibu Nursaknah ini sudah banjir pesanan selama kurang lebih satu bulan berproduksi. “Saya biasa memasarkan di kios-kios terdekat yg sudah memesan dua hari sebelumnya dan ada juga pelanggan saya yang dari Kopang,Kabupaten Lombok Tengah“, ujarnya.
Menurut pengakuan tetangganya ibu Saknah begitu panggilan akrabnya adalah seorang pekerja keras. “Dia sosok yang tidak kenal putus asa,kami termotivasi untuk mengikuti jejaknya tapi mungkin usaha yang berbeda”. Imbuhny
Berbeda dengan ibu Nurhasanah. Seroang remaja bernama Nining Hairunnisa (20 tahun), yang saat ini menjadi mahasiswi semester IV, Fakultas Peternakan di Universitas Mataram (UNRAM) ini membuat makanan olahan seperti Dodol Nanas, Dodol Tomat, Keripik Pisang Balado dan lainnya. Latar belakang yang memotivasi dia membuat usaha tersebut dikarenakan ingin membuka lapangan pekerjaan untuk ibu-ibu yang menjadi kepala keluarga (single parent) dengan memberikan imbalan sebesar Rp15.000,- dalam sekali produksi.
Kami juga meminta tanggapan dari bapaknya tentang usaha yang di geluti Nining begitu panggilan akrabnya. “Saya sangat bangga usaha yg dulu saya mulai dengan menjual dua kotak mie instan sekarang sudah maju setelah dikelola oleh anak saya “ungkapnya. “Bahkan saya sudah tidak terpikirkan untuk merantau sekarang” imbuhnya.
Selain memproduksi di rumah,dia juga menjual hasil produksinya di Kampus . Akan tetapi dia bisa membagi waktu antara kuliah dengan berusaha karena menurutnya kuliah sambil usaha itu sangat perlu di samping mengurangi beban orang tua bisa juga dibuat sebagai ajang melatih kemandirian diri. Karena mahasiswa itu juga diajarkan bagaimana supaya bisa bermanfaat u tuk orang di sektar. “Pada saat berdagang saya berdagang dan ketika ada semester saya tinggalkan usaha dan fokus sama kuliah saya”. terangnya dengan raut muka serius.
Masalah bahan baku dia dapatkan dari petani langsung yang ada di Loang Sawak,Desa Lendang Nangka ,Kecamatan Masbagik,Kabupaten Lombok Timur . Karena untuk bahan baku Dodol nanas itu tidak ada di Dusun Sompang. Dibalik kesuksesan pasti ada kendala yang sampai saat ini masih menjadi penghambat produksinya, karena waktu produksi hanya di lakukan ketika dia libur kuliah saja. Dia tidak berani membiarkan karyawan memproduksi tanpa pengawasan dan bimbingannya, dikarenakan mereka belum benar-benar terlatih dalam masalah bumbu,teknis pengolahan dan pengemasan (Packing).
Harapan dia kedepan usahanya bisa di lirik oleh Pemerintah Desa Tetebatu Selatan, agar bisa mendapat bantuan berupa; Modal usaha,Alat-alat,bahkan mungkin pelatihan peningkatan Kapasitas tentang bagaimana berwirausaha dan cara pemasaran yang baik.
Potensi sumber daya manusia (SDM) seperti inilah yang harus diberdayakan dan dibina oleh Pemerintah Desa. Agar peningkatan ekonomi masyarakat bisa meningkat dan menjadi nilai lebih untuk dasa yang bersangkutan.
Usaha rumahan tersebut menjadi satu alternatif dan menjadi jawaban dari persoalan-persoalan ekonomi rumah tangga yang sejauh ini menekan beban dari budaya lama yang menganggap bahwa laki-laki adalah satu-satunya tulang punggung ekonomi rumah tangga dan di satu sisi memandang remeh kontribusi perempuan di dalam rumah tangganya. Kreativitas perempuan ini menjadi inspirasi yang positif sebagai satu cara untuk menunjukkan peranan perempuan adalah sangat berarti dan penting untuk diberikan apresiasi dan ruang gerak setara dengan laki-laki.
KAZUAINI SEPTIAWADI – TBS

